Menjahit Benang Harapan di Balik Lapas

Oleh: GORIS MUSTAQIM

Sebagian dari kita merasa berjarak —barangkali bahkan sengaja menciptakan jarak— dengan sesuatu
yang disebut lembaga pemasyarakatan (lapas). Tidak demikian dengan pemudi yang satu ini.
Ia rajin keluar masuk lapas.

Titin Agustina bukanlah resi­ divis kambuhan, tidak juga sedang menjalani asimilasi di luar penjara. Itu hanyalah salah satu bentuk upayanya memberdayakan para perempuan, kebanyakan ibu­ibu, penghuni Lapas Wanita Kelas IIA, yang terletak dekat Lapas Sukamiskin yang tersohor di Kota Bandung. Titin mentransfer pengetahuan, membuat tangan para penghuni lapas lebih terampil untuk membuat produk kreatif.

Persinggungannya dengan para perempuan di lapas bukan sesuatu yang sejak awal direncanakan. Mari sejenak mundurkan waktu ke 2009. Saat itu, Titin yang tinggal di Awiligar, Bandung, tergerak untuk membantu tetangga sekitarnya yang berasal dari keluarga prasejahtera. Ia mencari cara, lantas berpikir produk­produk kreatif hasil jahitan akan dapat membantu mereka.

Meski waktu itu Titin belum bisa menjahit, keinginan kuat memberdayakan ibu­ibu yang kekurangan di sekitarnya menuntunnya mendirikan Kraviti. Pengalaman berwirausaha semasa di kampus dengan berjualan pakaian batik di pameran­pameran membuat Titin tak sama sekali buta arah. Ia mampu memetakan selera pasar dan memvalidasi produk. Ia lantas memantapkan lini produksinya pada olahan perca batik menjadi bed cover, taplak meja, sarung bantal, dan berbagai aksesori lain.

Suatu hari, pada 2012, Kraviti mendapat undangan untuk memberikan pelatihan di lapas. Dari situ, ia mengetahui, ada pembinaan berupa membuat kerajinan, merajut, dan sejenisnya di lapas. Sayang, kegiatan tersebut tidak dipadukan dengan strategi wirausaha serius, semangat para penghuni lapas untuk terus berkarya pun tidak terawat. Paling­paling hanya ramai berproduksi untuk sesekali pameran di lapas.

Dalam pelatihan singkat tersebut, Titin berkesempatan berdialog dengan ibu­ibu yang berusia 20­an sampai 50­an tahun, mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Obrolan itu membawa Titin pada kesimpulan, tindakan manusia kerap tak bisa begitu saja dipandang secara hitam­putih. Kriminalitas yang di antaranya berupa keterkaitan dengan narkoba atau penipuan itu punya beragam motif dan latar belakang. Sebagian besar dari mereka jera dan memiliki keinginan kuat untuk berubah.

Titin Agustina (tengah) bersama salah satu pembeli di pameran International Gift and Decoration Fair Madrid.

Menjalani kesabaran

Pertemuan tersebut memanggil Titin kembali ke lapas. Dengan menggandeng organisasi Junior Chamber International (JCI), ia menawarkan kemitraan dengan lapas untuk memberdayakan para narapidana. Ibu­ ibu tadi diajak bekerja. Bayaran untuk setiap produk yang dibuat ditabungkan per bulan ke rekening mereka di penjara. Pihak lapas menyediakan mesin jahit, Kraviti melakukan pelatihan internsif berikut bahan­bahan yang dibutuhkan. Suara­suara sumbang karena Kraviti bekerja sama dengan orang­orang yang kerap diberi label negatif tak dihiraukan Titin.

Satu per satu tahapan bekerja dengan narapidana dijalani dengan kesabaran, layaknya proses memasukkan benang ke dalam jarum. Tim Kraviti “membaca bakat” setiap orang lalu menempatkan mereka di beberapa pos, seperti pemolaan, penjahitan, dan  nishing. Dari keseluruhan peserta, hanya sekitar 30 persen yang memiliki dasar keterampilan, sisanya memerlukan waktu sekitar 3 bulan untuk menjadi mahir.

Peminat pun makin banyak. Kendati di awal hanya 3 orang yang mengikuti pelatihan, pada akhir periode pembinaan tahun pertama ada 20 orang yang bergabung. Mereka termotivasi melihat pekerjaan ini bisa mendatangkan penghasilan yang dapat digunakan sekadar untuk uang jajan, menelepon keluarga, bahkan ada yang secara rutin mengirimkannya ke keluarga mereka.

Hasil karya Kraviti dipasarkan di sejumlah outlet dan pameran. Segmen pasarnya perempuan urban kelas menengah ke atas, yang menghargai desain unik dan berkelas. Sejak awal, Kraviti tidak mau orang membeli produk mereka karena belas kasihan. Kraviti juga memperkuat diri dengan desainer­ desainer yang berjiwa sosial.

Narasi di balik produk memang belum menjadi daya tarik bagi pasar dalam negeri. Namun, konsumen di luar negeri amat peduli dengan hal itu. Mereka mencari tahu asal­ muasal, bahan, pembuatan, dan cerita di balik produknya. Hal ini mendorong Kraviti mencantumkan cerita tentang pemberdayaan di label produk saat berkesempatan mengikuti pameran Pasar Malam Indonesia 2013 di Den Haag, Belanda, dan International Gift and Decoration Fair 2014 di Feria de Madrid, Spanyol. Sejumlah pengakuan diraih, salah satunya dengan menjuarai kompetisi Mandiri bersama Mandiri Challenge pada 2012. Kiprah mereka menjadi kisah yang dituturkan banyak media.

Perjalanan Kraviti bukan tanpa tantangan. Ada saat menuai hasil, ada pula saat bisnis ini menemukan pembelajaran. Ketika makin banyak orang mengenal produknya, banyak pula yang mengetahui kemampuan ibu­ibu lapas. Hal ini membuat ibu­ibu tersebut mendapatkan banyak pesanan selain dari Kraviti. Meski awalnya hal ini dipandang positif untuk kesibukan narapidana, ada pula sisi yang merugikan. Pasokan ke Kraviti menjadi terlambat.

Kraviti pun mendeteksi adanya kesalahan penetapan harga, yang diduga karena tidak adanya SDM internal yang kuat di sisi bisnis. Permintaan yang naik­turun juga membuat mereka mesti menetapkan strategi lain dengan pendekatan business to business. Mereka menyuplai merek yang telah me­ miliki nama dengan produk sesuai permintaan

tanpa mencantumkan label Kraviti. Inilah saat idealisme harus dikorbankan untuk keberlangsungan usaha dan kesinambungan dampak sosial.

Kendati cukup berhasil memberdayakan para narapidana perempuan, Titin me­ mutuskan untuk memberhentikan sementara program di Lapas. Selain karena iklim bisnis perusahaan yang sedang tak bagus, siklus keluar­masuk binaan yang tinggi dan dinamika internal di lapas turut menjadi pertimbangan.

Titin mengubah strategi pemberdayaan dengan merancang Rumah Kolase. Bekerja sama dengan balai pemasyarakatan ( bapas), Rumah Kolase akan menggandeng alumni lapas. Sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan. Belum ada program khusus yang mengakomodasi mantan narapidana agar dapat hidup mandiri dan berbaur dengan masyarakat. Hal ini sekaligus mencegah narapidana melakukan tindak kriminalitas lain yang mungkin akan menggiringnya lagi masuk penjara.

Titin juga berkoordinasi dengan beragam pemangku kepentingan, seperti Dirjen Hukum dan HAM Kanwil Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, dan komunitas­komunitas kreatif di Bandung. Tak ketinggalan, ia pun rajin berkomunikasi dengan pengusaha­ pengusaha untuk memvalidasi rencana produk barunya. Produk tersebut nantinya akan dijadikan produk unggulan alumni lapas. Titin tertantang untuk membuktikan, pembinaan para narapidana akan lebih menampakkan hasil jika tetap diteruskan setelah mereka keluar dari lapas.

Tergerak untuk berkontribusi pada keberhasilan pemberdayaan ibu­ibu di lapas? Kraviti sedang berupaya memperluas akses pasar demi meningkatkan dampak sosialnya. Jika Anda tertarik bekerja sama, kirimkan e-mail ke kraviti.perca2@gmail.com.

Perca sebagai Identitas

 

Perca identik dengan sampah atau sisa yang biasanya dibuang. Kraviti mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai fungsional

sekaligus artistik dengan Perca identik dengan sampah atau sisa yang biasanya dibuang. Kraviti mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai fungsional

metode patchwork. Hal ini senapas dengan semangat pemberdayaan para penghuni lapas, mengangkat mereka dari stigma negatif menjadi manusia yang memiliki harkat, martabat, dan keterampilan. Perca adalah metafora perjuangan mereka. Ini yang mendasari tagline Kraviti, “Patch a Hope”.

 

Selalu ada kesempatan kedua asalkan ada kemauan untuk berubah dari sendiri.

Kaum yang termarjinalkan membutuhkan pendekatan sosial khusus agar tumbuh semangat, kepercayaan diri, dan daya juangnya. Para pemberdaya pun perlu menguasai teknik pendekatan secara asertif. Lebih banyak menggali, mendengar, atau memosisikan diri menjadi teman curhat. Titin mengalami, banyak yang mengejutkan dari cerita para narapidana, tetapi ia berusaha bersikap wajar. Dengan demikian, informasi akan mengalir lancar dan kesalingpercayaan terbangun.

Dalam interaksi tersebut, Titin juga sesekali mengajak mereka berpikir dan menyelipkan ajakan untuk berdaya dengan cara yang bersahabat. Saat memberikan pembelajaran, konsep punishment juga mesti diupayakan sebagai kesepakatan bersama, bukan hukuman satu arah. Titin juga kerap berlaku sebagai pendongeng yang menceritakan pengalaman sejenis untuk sarana pembelajaran para narapidana.

Mengolah perca bukan sekadar mengubah sisa­sisa kain menjadi bentuk yang lebih indah, tetapi juga mentransformasi ibu­ibu narapidana. Rasa bangga dan percaya diri tumbuh mengetahui hasil jerih payahnya diterima pasar, bahkan dibeli orang asing di luar negeri. Bayangkan pula bagaimana lima ibu binaan bisa mempraktikkan kerja tim, padahal di awal pelatihan mereka kerap saling menyalahkan. Mereka telah belajar berkomunikasi dengan lebih baik sehingga potensi kepemimpinan dan rasa toleransi muncul.

Sampai 2014, terhitung sudah sekitar 50 orang yang dibina Kraviti. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen mencapai level mahir berproduksi. Orang­orang yang telah menyelesaikan masa tahanannya di lapas telah menemukan jalan untuk mengembangkan diri. Dua orang menjadi pengusaha, satu orang menjalankan bisnis katering, dan satu orang yang lain mendirikan sendiri usaha olahan perca. Ada pula yang menghubungi Titin untuk melamar kerja.

Itu semua menunjukkan, manusia selalu punya kemandirian untuk memilih. Selalu ada kesempatan kedua asalkan ada kemauan untuk berubah dari sendiri. Semangat inilah yang terus digelorakan Titin dan banyak pemberdaya lain di balik lapas di Indonesia.

Goris Mustaqim

Social Entrepreneur dan Konsultan Pengembangan Masyarakat

@GorisMustaqim

@kompasklass #budiluhur

Leave a Comment